Mencintai Persib tak Harus Menjadi Bandung

 Saya sama seperti anak laki-laki kecil kebanyakan di Indonesia. Sedari kecil sudah akrab dengan yang namanya Sepakbola. Dahulu saya bercita-cita menjadi pemain sepakbola. Sebagai seorang anak yang lahir di Jawa Barat, tentu saja saya mencintai Persib Bandung dan mempunyai keinginan untuk membela klub asal kota kembang tersebut.

Namun seiring dengan berjalannya waktu saya menyadari bahwa hubungan saya dengan Persib hanya bisa terjalin lewat status antara pendukung dan klub yang dicintainya saja.

Harus diakui bahwa saya memang tidak begitu mahir dalam mengolah si kulit bundar. Jujur saja, rasa sesal masih terasa di dalam hati saya karena hampir tidak mungkin bagi saya untuk dapat menjadi pemain Persib. Sejak saya masih duduk dibangku sekolah dasar sampai saya SMA, terhitung sudah 3 sekolah sepakbola (SSB) yang saya ikuti. Saya pun sering mengikuti turnamen-turnamen yang diadakan di daerah saya.

Mujur tak dapat dirayu, malang tak dapat ditolak, kesempatan untuk menjadi pesepakbola tak kunjung datang. Saya berasumsi faktor lain selain karena memang saya gak jago-jago amat, kemungkinan juga karena saya lahir dan besar di kabupaten Kuningan. Sebuah kota  kecil di sebelah timur Jawa Barat yang bahkan mungkin masih banyak warga Jawa Barat yang tidak tahu bahwa di provinsinya ada kota yang bernama Kuningan.

Hal itu yang membuat saya memutuskan untuk hanya sekedar menjadi  seorang supporter Persib Bandung saja tanpa harus ikut andil di dalamnya. Saya tidak pernah di doktrin oleh orang tua atau teman-teman saya untuk mencintai Persib. Saya mencintai Persib murni karena hati dan kemauan saya sendiri. Bahkan, ayah saya dahulunya merupakan pendukung Persija Jakarta sebab ia lahir dan besar di Jakarta, hal yang tidak mungkin jika saya mencintai Persib karena paksaan atau ikut-ikutan orang tua saja.

Selama menjadi pencinta Persib, hal yang paling bodoh dan aneh yang pernah saya lakukan adalah saya begitu fanatik kepada Persib. Saya sangat membenci Persija saat itu—tentu hal yang tidak patut ditiru dan saya sangat menyesali itu.

Saya ingat, ketika saya kelas 1 SMA, saya memaksakan diri untuk pegi ke stadion si Jalak Harupat. Saya memaksa ayah saya untuk pergi mengantar saya menonton Persib vs Pelita Bandung Raya (PBR). Saat itu tahun 2014, dimana pada tahun itu Persib menjadi juara liga Indonesia Super League setelah 19 tahun puasa gelar.

Dengan menggunakan motor Mio J milik ayah , saya berangkat bersama ayah dan kedua adik saya dari rumah menuju Soreang yang memakan waktu 5 jam lamanya. Bayangkan, 5 jam perjalanan dengan motor yang diisi 4 orang manusia diatasnya. Tidak peduli pegal ditangan, karena harus menahan tubuh adik saya yang jatuh tertidur diatas motor dan tidak peduli betapa dinginnya tubuh saya dan kedua adik saya saat itu ketika diperjalanan diterpa hujan. Saya tetap merengek, memaksakan kepada ayah saya untuk tetap lanjut menuju Soreang demi menonton pertandingan Persib secara langsung untuk pertama kalinya.

Kisah yang jika diingat membuat saya tersenyum karena tidak habis pikir kenapa saya begitu fanatiknya hanya karena ingin menonton sebuah pertandingan 22 orang yang memperebutkan satu bola diatas rumput hijau. Padahal saat itu keluarga saya sedang ada masalah, tetapi saya seperti tidak peduli akan hal itu, yang saya pedulikan hanya soal “saya ingin menonton Persib untuk pertama kalinya!”.

Hal itu membuat saya berpikir untuk memilih tinggal di kota Bandung di kemudian hari, karena bisa lebih dekat secara jarak dengan Persib. Ya, Satu lagi hal aneh yang pernah terpikirkan oleh saya ketika itu.

Saya berpikir untuk menjadi warga Bandung dan tinggal disana. Bandung yang banyak orang bilang kota dengan begitu banyak keindahan dan keramahan warga-warganya. Bandung yang kata orang adalah kota paling romantis di Indonesia. Bandung yang menjadi tempat lahirnya klub kebanggaan saya yaitu Persib.  Hal yang baru saya sadari saat ini bahwa itu adalah hal aneh yang pernah terpikirkan oleh saya.

Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa hal yang telah saya sebutkan diatas itu adalah hal bodoh dan aneh yang pernah saya lakukan dan saya pikirkan. Saya jadi teringat akan sajak Alm. Sapardi Djoko Damono “Mencintai angin harus menjadi siut/Mencintai air harus menjadi ricik/Mencintai gunung harus menjadi terjal/Mencintai api harus menjadi jilat/Mencintai cakrawala harus menebas jarak.” namun bagi saya Mencintai Persib Tidak Harus Menjadi Bandung.

Hal yang baru saya sadari saat ini. Persib bukan hanya milik warga Bandung. Persib adalah milik orang-orang yang tulus ikhlas mendukung dan mencintainya tanpa merugikannya. Tidak peduli darimanapun asalnya, tidak peduli apa bahasa, agama, suku, dan bangsanya. Selama ia cinta akan Persib, Persib adalah miliknya.

Saat ini saya memilih untuk tetap mencintai Persib meskipun tinggal di sebuah kota kecil bernama Kuningan.


*** Tulisan diatas dibuat pada tanggal 20 Agustus 2020 disebuah kedai kopi disekitaran Cirebon, Jawa Barat. Tulisan tersebut juga pernah terbit pada media fandom.id dengan judul yang sama, hanya ada beberapa kalimat yang diedit. Sengaja saya post tulisan tersebut agar terarsip dengan rapih di laman pribadi saya sendiri. Bagi yang tidak sengaja membaca tulisan ini, dan ingin membaca versi yang diuoload di fandom.id bisa klik link ini https://fandom.id/mencintai-persib-tak-harus-menjadi-bandung/

Komentar

Postingan Populer