Digdayanya Bayern Munchen di Eropa

Digdayanya Bayern Munchen di Eropa

Bayern Munchen baru saja keluar sebagai juara liga Champions musim 2019/2020 setelah di final mengalahkan raksasa Francis, Paris Saint-Germain dengan skor tipis 1-0.

Munchen kembali membawa pulang piala si kuping besar ke Jerman . Terhitung sudah 7 tahun setelah terakhir kali Bayern Munchen menjuarai Liga Champions pada tahun 2013 lalu.

Gelar Liga Champions pada tahun 2020 ini merupakan piala yang keenam bagi Die Roten di kompetisi paling bergengsi di tanah biru tersebut. Capaian itu menjadikan mereka menjadi tim tersukses ketiga bersama Liverpool. Sedangkan Real Madrid masih memimpin dengan 13 gelar disusul AC Milan yang  sudah mengoleksi 7 trofi.

Musim 2019/2020 merupakan musim yang penuh suka duka bagi Die Roten. Pasalnya, di awal musim mereka seperti kehabisan tenaga dan banyak yang mengira bahwa musim ini bukanlah musim keberuntungan bagi Bayern. Namun dugaan tersebut sepenuhnya salah, terbukti setelah Hansi Flick menukangi Bayern Munchen, The Bavarian mampu merengkuh trebble winner setelah menjuarai Bundesliga, DFB-Pokal, dan Liga Champions.

Sejarah pun tercipta pada gelaran liga Champions Musim ini, dengan taktik permainan sang pelatih yang dikenal dengan Flick Ball. Bayern Munchen menerapkan filosofi sepakbola Jerman, menekan dan menyerang tanpa memberikan kelonggaran bagi tim lawan.

Bayern Munchen mencatatkan sejarah dengan 100% kemenangan di Liga Champions. Ya, Bayern Munchen selalu meraih kemenangan di Liga Champions musim ini sejak fase grup. Total 11 pertandingan dilalui dengan poin sempurna, serta memiliki catatan 43 gol dan hanya kebobolan delapan kali.

Tujuh tim harus menanggung malu akibat kedigdayaan “sang raja” eropa dari Jerman. Tim tersebut antara lain Red Star Belgrade, Tottenham Hotspur, Olympiakos, Chelsea, Barcelona, Olympique Lyon dan Paris Saint-Germain. Selayaknya rakyat yang dilarang mengekang “sang raja”, mereka tak mampu menahan superioritas The Bavarian.

Kemenangan yang menjadi sorotan adalah ketika Bayern Munchen berhasil membuat malu Barcelona di perempat final Liga Champions dengan skor telak 2-8 di Stadion Da Luz, Lisbon, Portugal pada 15 Agustus lalu.

Sebuah kemenangan yang tentunya akan tercatat dalam sejarah sepakbola. Tidak ada seorang pun akan mengira bahwa 8 gol bisa bersarang di gawang Barcelona hanya dalam satu laga dan tidak ada seorang pun yang dapat mengira tim sekelas Barcelona yang beberapa tahun terakhir ini menguasai Eropa dengan bintangnya Lionel Messi tersebut tidak berdaya dan tidak bisa berbuat banyak dihadapan sang jawara Liga Jerman.

Kedigdayaan skuad Bayern Munchen terlihat juga dari 43 gol yang berhasil dilesakkan ke gawang lawan, mereka hanya kalah selisih dua gol dari Barcelona yang mampu membukukan 45 gol pada gelaran Liga Champions musim 1999/2000. Namun, Barcelona pada saat itu melakoni 16 laga, sedangkan Bayern Munchen hanya melakoni 11 laga akibat adanya pandemi Covid-19 yang mengharuskan laga perempat final dan semifinal dimainkan satu leg ditempat netral.

Statistik yang berhasil ditorehkan oleh Hansi Flick sebagai pelatih pun sungguh luar biasa. Ia ditunjuk untuk menggantikan Niko Kovac yang dinilai tidak mampu membawa Die Roten menuju tangga juara. Semenjak ia ditunjuk menjadi pelatih kepala pada November 2019 lalu, sang Caretaker berhasil menuntun Bayern Munchen kembali ke tangga juara. Terhitung 36 pertandingan dimainkan oleh Bayern Munchen dibawah asuhan Hansi Flick, dengan 33 kali kemenangan, 1 kali seri, 2 kali kalah, 116 gol, dan hanya 26 kali kebobolan.

Tipe kepemimpinan Flick pun harus diacungi jempol. Patut diakui bahwa Bayern Munchen saat ini tampak kompak dan seluruh pemain memiliki kedisiplinan yang tinggi. Hal itu bisa dilihat saat laga perempat final dan semifinal, meskipun mereka berhasil mencetak banyak gol para pemain tidak melakukan selebrasi yang berlebihan selayaknya sudah keluar sebagai juara. Karena mereka tahu, masih ada satu step lagi yang harus mereka lalui untuk menjadi juara.

Hansi Flick yang sebelumnya hanya ditunjuk untuk menjadi pelatih interim Die Roten, akhirnya dipermanenkan untuk menakhkodai Thomas Muller dan kawan-kawan hingga tahun 2023. Ia mampu memanfaatkan kepercayaan tersebut dengan membuktikan bahwa ia mampu menjadi seorang pelatih elite dengan membawa pulang trofi Bundesliga, DFB-Pokal dan Liga Champions ke Alianz Arena.

Sekarang, mari kita lihat apakah Bayern Munchen dan Hansi Flick mampu mempertahankan kedigdayaan mereka pada musim yang akan datang atau tidak?!

 

Tetap kawal 8-2 hehe

 


***Artikel opini diatas dibuat pada tanggal 20 Agustus 2020 disebuah kedai kopi disekitaran Cirebon, Jawa Barat. Persis setelah saya menyelesaikan tulisan saya tentang Persib. Tulisan tersebut juga pernah terbit pada media fandom.id dengan judul "Bayern Munchen dan Taman Bermainnya.  https://fandom.id/bayern-munchen-dan-taman-bermainnya/

Komentar

Postingan Populer