Harapan Palsu “Sang Legenda”
Sebagai penggemar Chelsea yang lahir ditahun 90’an, tentunya sudah tidak asing dengan nama Frank Lampard. Salah satu legenda yang menjadi idola para The Blues selain John Terry.
Lampard pertama kali datang ke Stamford
Bridge pada tahun 2001 dengan status sebagai pemain. Dengan biaya transfer
sebesar 11 juta pound, Ia menjadi rekrutan termahal kedua Chelsea kala itu.
Sebagai pemain, Lampard dikenal sebagai salah satu pemain besar di
Inggris. Prestasi yang diraihnya pun terbilang sukses bersama Chelsea. Total,
Frank Lampard membela Chelsea selama 13 tahun dengan penampilan sebanyak 648
kali. Dia mengoleksi 211 gol dan menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang
sejarah Chelsea hingga saat ini.
Rekor-rekor lain pun pernah ia ciptakan bersama The Blues, termasuk rekor penampilan
beruntun tanpa putus terbanyak di liga, total 164 pertandingan yang ia mainkan
dimulai dari 13 Oktober 2001 - 26 Desember 2005.
Pemain “legenda” bernomor punggung 8 tersebut telah berhasil
membantu Chelsea memenangi 13 trofi; 3x Premier League (2005, 2006, dan 2010), 4x
FA Cup (2007, 2009, 2010, dan 2012), 2 League Cup (2005 dan 2007), 2 Communty
Shield (2005 dan 2009), 1 Liga Europa (2013) dan 1 Liga Champions (2012).
Rekor-rekor tersebut tentu saja hanya diraih olehnya ketika
menjadi pemain, bukan sebagai PELATIH.
Pada musim 2019/2020, Lampard kembali ke Stamford Bridge setelah meninggalkan Chelsea sejak 2014. Ia kembali
bukan sebagai pemain, melainkan sebagai pelatih.
Lampard ditunjuk sebagai pelatih untuk menggantikan Maurizio Sarri
yang dinilai tidak mampu membawa Chelsea kepada puncak kejayaan. Padahal, Sarri
berhasil membawa Chelsea masuk tiga besar Liga Inggris dan memenangi Liga
Europa setelah mengalahkan klub asal London yang lain, Arsenal.
Harapan pun muncul dari para fans The Blues di seluruh dunia ketika Super Frankie menduduki kursi kepelatihan Chelsea.
Namun, tugas berat menantinya, mengingat Eden Hazzard yang
memutuskan pergi ke Madrid dan Chelsea harus menerima hukuman larangan tranfer
ketika itu.
Para fans The Blues tak
putus harapan, pada musim pertama Lampard melatih, dia berhasil membawa Chelsea
finis empat besar Liga Inggris 2019/2020 dan berhasil melaju ke babak final FA
Cup dengan skuad seadanya.
Tak pelak ia digadang-gadang bakal menjadi pelatih hebat yang
mampu membawa Chelsea menjuarai berbagai kejuaran di musim-musim berikutnya.
Pada musim keduanya sebagai pelatih Chelsea, ia menghabiskan lebih
dari 200 juta pound untuk belanja pemain pada musim panas kemarin. Namun,
hingga saat ini prestasi The Blues dibawah
asuhan “Sang Legenda” belum bersinar, malah bisa dibilang gagal.
Sempat memimpin klasemen beberapa waktu lalu, sayang sungguh
sayang, kekuatan The Blues perlahan
“memudar” sehingga kini hanya bertengger diposisi 8 klasemen dengan torehan 26
point hasil dari 7x menang, 5x seri, dan 5x kalah.
Posisi tersebut bukanlah posisi yang pantas, mengingat Chelsea
merupakan tim besar yang bahkan masuk dalam big
six liga Inggris.
Menurut laporan the Sun,
Frank Lampard hanya mencatatkan rata-rata poin per pertandingan sebesar 1,70.
Poin tersebut merupakan yang terburuk diantara manajer-manajer yang pernah
menukangi Chelsea. Lampard bahkan menyamai rekor Andre Villas-Boas yang melatih
Chelsea tidak sampai satu musim.
Setelah semalam The Blues dilibas
habis oleh Manchester City di Stamford
Bridge dengan skor 1-3, rekor
buruk pun tercipta. Chelsea gagal menang 7x dari 10 laga terakhirnya termasuk
kalah dari rival sekotanya, Arsenal.
Rekor yang diciptakan Lampard sebagai pemain memang sungguh terbalik
dengan rekor yang dia ciptakan sebagai pelatih.
Chelsea tak terlihat sebagai tim “berharga mahal” saat ini. Frank
Lampard sebagai pelatih pun harus siap menerima cemoohan para penggemar.
Narasi-narasi seperti “pelatih miskin taktik” sampai tagar #LampardOut pun
menyeruak.
Kemampuan melatih Frank Lampard pun mulai dipertanyakan, para fans
menilai taktik yang dijalankan olehnya tidak kreatif dan tidak menarik.
Sebagai fans Chelsea, saya tidak begitu peduli dengan sematan
pemain legenda yang dipegang Lampard. Ia memang seorang Legenda sebagai pemain,
tetapi tidak sebagai pelatih.
Berat saya katakan, tetapi memang cara bermain The Blues saat ini payah. Para fans
tidak bisa terus menerus berharap pada sematan “legenda” tersebut. Jika menarik
waktu ke belakang, tidak ada lagi cinta dan harapan ketika Chelsea inkonsisten.
Komentar
Posting Komentar