SUDAH TERPINGGIR, KITA TERDESAK!


“Sudah terpinggir, kita tedesak.” Saat membaca kutipan dari Tan Malaka tersebut tiba-tiba saja saya langsung teringat kondisi sekarang. Bukan kondisi perang, tapi kondisi masyarakat bawah di tengah pandemi covid-19. Pemerintah tak henti-hentinya “berteriak” kepada masyarakat untuk #stayathome, bahkan sekarang di kota-kota besar sudah menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Hal itu memang langkah yang tepat untuk mencegah penyebaran virus yang lebih besar lagi, tetapi harusnya diikuti dengan solusi lain juga, terlebih untuk masalah ekonomi masyarakat bawah. Mungkin bagi sebagian orang di Indonesia yang memiliki tarap ekonomi menengah ke atas tidak terlalu memberatkan mereka karena mereka memiliki cukup uang untuk membeli bahan makanan. Namun pernahkah kita memikirkan saudara-saudara kita yang lainnya? Saudara kita yang hanya bekerja dengan gaji harian, yang berjualan sebagai pedagang kaki lima, yang menjadi tukang asongan, yang menjadi buruh bangunan, dan lainnya? Mereka tidak akan menghasilkan uang untuk menghidupi dapur mereka jika tidak bekerja harian.
Nyatanya, pandemi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga pada ekonomi masyarakat. Baru saja saya melihat berita yang beredar dan mengatakan bahwa ada seorang ibu di Kota Serang yang meninggal setelah dua hari hanya minum air putih saja karena suaminya sudah tidak bekerja lagi. Jujur sangat teriris sekali hati saya ketika mendengar berita itu. Negara memang tidak sedang baik-baik saja, tetapi hati nurani jangan sampai ikut tidak baik juga. Pemerintah sudah harus secepatnya mencari solusi untuk kondisi seperti ini.
Menjadi orang miskin di negara ini memang tidak enak, dan selalu dianggap salah. Kita sudah terpinggirkan, dan sekarang kita tedesak!


Wallahu a'lam.

Komentar

Postingan Populer