KOPI DAN KEHIDUPAN
KOPI DAN KEHIDUPAN
Sebagaimanapun
hebatnya racikan kopi, tetap saja kopi takkan pernah kehilangan rasa pahitnya.
Kata-kata itu mungkin sudah tak asing di telinga sebagian orang—khususnya bagi
pecinta kopi. Ya, memang kopi takkan pernah kehilangan rasa pahitnya, sebab
itulah sejatinya kopi, itulah jati diri kopi.
Begitupula
kehidupan, kita dilahirkan ke dunia ini untuk tidak merasakan nikmatnya saja,
sebagaimanapun kita merasa manisnya kehidupan, percayalah tak ada satu pun
manusia yang tak pernah merasakan pahitnya kehidupan. Begitupula sebaliknya.
Jika pahit adalah sejatinya kopi,
maka hidup adalah tentang cara bagaimana menghadapi kepahitan-kepahitan yang
kita terima. Takaran pahit manisnya hidup tergantung dari bagaimana kita
memandang persoalan-persoalan itu. Jika kita memandang bahwa kita mampu
menghadapi kepahitan hidup, percayalah kita pasti akan melewatinya. Jika kita
memandang, akan sulit menghadapi kepahitan hidup, percayalah kita pun akan
sulit atau bahkan tidak bisa melewatinya.
Persoalan hidup hanya sebatas
pikiran dan sugesti akal kita, jika pikiran kita sudah positif dan yakin untuk
menghadapi kenyataan hidup, tubuh kita pun akan tersugesti untuk melakukan
hal-hal yang dapat membawa kita pada keinginan kita, dan begitupula sebaliknya.
Kita selalu bicara tentang getirnya
kehidupan, tapi kita tak pernah bergerak untuk menghapus kegetiran itu. kita
selalu mengeluh tapi tak pernah mau merubah keadaan. Kita selalu mengumpat atas
segala persoalan yang kita hadapi tanpa mau tahu mencari jalan keluar atas
persoalan tersebut.
Akan ada saatnya dimana kita akan
menyadari bahwa kita sudah harus menerima kenyataan-kenyataan hidup, sekalipun
lebih banyak pahit ketimbang manis.
Ikhlaslah menerima, jangan membenci, jangan pula mencintai sakit hati.
Percayalah, kopi yang terlalu manis
adalah kopi yang tidak nikmat!
Komentar
Posting Komentar