CERPEN : TIMNAS INDONESIA di Tahun 2045
Aku baru berumur 10 tahun saat kakak ku mengajak aku menonton
pertandingan sepakbola Timnas Indonesia di ajang piala AFF di stadion Gelora
Bung Karno. Di tahun 2010, Timnas sepakbola Indonesia berhasil melaju ke babak
final piala AFF atau dahulu disebut dengan piala tiger setelah mengalahkan
Timnas Filiphina dengan skor agregat 2-0 untuk kemenangan Indonesia. Di babak
final Indonesia berhadapan dengan negara serumpunnya, yaitu Malaysia. Sudah
diketahui bahwa kedua negara ini selalu “berseteru” tidak hanya dalam bidang
olahraga sepakbola, tetapi juga bahkan dalam bidang bidang lainnya.
Dari sini para
pecinta sepakbola Tanah Air kembali berapi-api mendukung Timnas Indonesia
berlaga setelah beberapa tahun Timnas Indonesia tak menunjukkan “cakarnya” di
ajang Internasional. Namun sangat disayangkan Indonesia harus mengakui
kekalahan Malaysia setelah kalah aggregat gol 2-5 untuk kemenangan Malaysia.
Perjuangan para pemain demi lambang “Garuda di Dada” harus dibayar dengan hanya
menduduki peringkat dua dibawah Malaysia.
Aku merasai mulai
adanya kecintaan diriku pada dunia sepakbola secara mendalam, terlebih terhadap
liga Indonesia dan juga Timnas Indonesia. Hingga aku bercita-cita ingin menjadi
pemain sepakbola.
“Kak, aku ingin
menjadi pesepakbola seperti Bambang Pamungkas” kata ku memberitahu kakak ku.
“Nah, bagus itu
Di. Nanti akan kaka carikan SSB yang bagus untuk mu” timpal kakak ku Ilham.
“Apa itu SSB kak?”
“Sekolah Sepakbola
Di, kau bisa belajar bermain bola disana”
“Iya kak, Adi mau”
Besoknya, aku
diajak kakak ku pergi ke toko olahraga untuk membeli sepatu bola.
“ini sepatu bola
untuk siapa kak?” tanya ku
“Untuk mu, kan kau
ingin jadi pemain sepakbola?”
“Wah, terimakasih
banyak kak”
Aku pun akhirnya
daftar di suatu SSB dekat rumah ku. Kakak ku yang mendaftar kan, katanya SSB
itu baru saja di bentuk, dan kebetulan pelatihnya adalah teman kak Ilham.
***
Hari demi hari,
bulan demi bulan, tahun demi tahun aku berlatih di SSB itu. namun, aku rasai aku
tidak berbakat menjadi pesepakbola. Banyak seleksi yang aku ikuti, dari mulai
seleksi untuk masuk klub sampai seleksi nasional untuk Timnas Junior, aku hanya
mampu menembus masuk klub asal Jakarta dan itu kategori Junior, dan hanya
bermain beberapa laga saja, hingga akhirnya PSSI di bekukan oleh federasi
sepakbola internasional atau FIFA. Ditengah dibekukannya PSSI oleh FIFA, aku
hanya berlatih dan berlatih di SSB, tak ada kompetisi resmi yang biasanya
diadakan oleh PSSI seperti piala soeratin, dan lain-lain.
Sampai akhirnya
aku lulus SMA, aku memutuskan untuk berhenti bercita-cita menjadi pemain
sepakbola. Selain karena PSSI yang menurutku “kacau” disana-sini, sehingga tak
menjamin untuk para atlet sepakbola nasional, aku rasai juga kekurangan bakatku
menjadi pemain sepakbola. Aku ingin sekali, membela Timnas Indonesia, tapi apa
daya aku tak pernah lolos seleksi.
Kukatakan pada
kakak ku bahwa aku tak ingin lagi bercita-cita menjadi pemain sepakbola,
setelah kecewa karena tak kunjung dapat membela Timnas Indonesia. Aku tahu
kakak ku sangat kecewa, karena aku satu-satunya harapan baginya untuk melihat
ada saudaranya yang membela Timnas Indonesia. Untungnya kakak ku dapat
memakluminya.
PSSI kembali
mengadakan kompetisi setelah pembekuannya oleh FIFA telah dicairkan.
Dalam beberapa waktu aku hanya menjadi “penikmat” sepakbola, sebagai
penghilang penat dari dunia pekerjaan. Karena bagaimanapun aku tetap tak bisa
terlepas dari dunia sepakbola. Ku nikmati pertandingan-pertandingan yang
dimainkan oleh para klub kontestan Liga Indonesia sampai Timnas Indonesia.
Lama kelamaan aku tidak hanya menjadi seorang penikmat sepakbola,
tetapi lebih kepada pengamat sepakbola. Setelah selesai menonton suatu
pertandingan sepakbola, aku biasa menuliskan hal-hal apa saja yang harus di
apresiasi, di kritisi, dan di evaluasi di pertandingan tersebut. Tidak hanya
dalam sebuah pertandingan, aku pun mengamati dunia sepakbola secara
keseluruhan, mulai dari klub-klub nasional dan luar negri hingga sampai pada
federasi, PSSI dan FIFA.
***
Lima tahun aku
jalani sebagai seorang pengamat sepakbola, usia ku saat itu sudah 30 tahun, aku
pun sering di undang menjadi seorang komentator di beberapa stasiun televisi.
Tahun 2030,
sepakbola Indonesia lambat laun sudah mulai maju. Para pemain sepakbola
Indonesia sudah banyak yang berkarir di luar negeri. Ini merupakan suatu
kebanggan bagi para pecinta sepakbola nasional.
Pada tahun 2030
itu sebenarnya Indonesia bisa masuk ke Piala Dunia, jika pada pertandingan
kualifikasi Pra Piala Dunia tak dikalahkan oleh Jepang.
Dunia sepakbola
Indonesia memang mengalami pasang surut, setelah tahun 2034, ranking FIFA
Indonesia anjlok, disebabkan sanksi yang diperoleh PSSI, karena ketuanya yang
terbukti korupsi.
Dunia sepakbola
nasional saat itu sangat kacau, selama 4 tahun lamanya simpang siur tak jelas
kemana arah tujuannya. Para pesepakbola nasional yang sudah bermain di luar
negeri, terpaksa harus pulang kembali, karena status mereka yang tidak diakui
FIFA.
Aku sempat
mengkritisi keadaan ini dengan menulis berbagai artikel di media-media cetak,
juga aktif di media sosial dalam mensosialisasikan gerakan mendukung majunya
Sepakbola Nasional.
***
Tahun 2038 PSSI
kembali membangun fondasi untuk memajukan kembali sepakbola Indonesia.
Aku merenung,
apakah aku sempat menyaksikan Timnas Indonesia berlaga di Piala Dunia?
Sementara umurku tiap waktu semakin bertambah.
Namun, berkat para
pejabat-pejabat PSSI yang baru, dunia sepakbola Indonesia kembali menunjukkan
tajinya, para pemain asal Indonesia mulai kembali berlaga di liga-liga luar
negeri.
Aku pun sering
ditawari untuk masuk dalam bagian kepengurusan PSSI, namun aku menolak, karena
aku lebih nyaman menjadi seorang pengamat.
Dan pada akhirnya,
pada tahun 2042, Indonesia dapat merasakan kembali atmosfer Piala Dunia setelah
sebelumnya merasakan pada tahun 1938, itu pun atas nama Hindia Belanda, bukan
Indonesia.
Indonesia berhasil
lolos babak kualifikasi pra Piala Dunia zona Asia dan mampu mengalahkan raksasa
Asia, Jepang dan Korea Selatan.
***
Tahun 2042
benar-benar menjadi tahun terbaik bagi para pesepak bola Indonesia dan juga
para pecinta sepakbola di seluruh Nusantara. Bagaimana tidak, sekian lama
masyarakat kita merindukan kejayaan Timnas Garuda, dan inilah puncaknya, Timnas
Indonesia melaju ke Piala Dunia. Betapa bahagianya saat itu seluruh rakyat
Indonesia, dari yang tidak suka sepakbola, sampai ikut-ikutan menyukai
sepakbola.
Di Piala Dunia
tahun 2042, Indonesia satu grup dengan timnas Francis, Ghana, dan Mexico. Itu
merupakan tantangan yang sangat berat bagi para punggawa Timnas Indonesia.
Melihat lawan yang merupakan “raksasa” sepakbola dan negara penghasil pemain
sepakbola berkualitas, PSSI tak menargetkan apapun, yang terpenting Indonesia
bermain baik, kalah pun tak apa, sudah masuk Piala Dunia merupakan sebuah
pencapaian yang sangat luar biasa. Aku pun berpikir demikian.
Diluar dugaan,
Indonesia mampu menembus babak 16 besar, setelah menduduki peringkat kedua,
dengan catatan menang melawan Ghana 1-0, bermain imbang dengan Mexico 0-0, dan
kalah dari Francis 4-3. Sementara Peringkat pertama diduduki oleh Francis yang
berhasil menyapu bersih tiga pertandingan di fase grup. Indonesia berhak lolos
setelah menang selisih gol dengan Mexico.
Di babak 16 besar,
Indonesia bertemu dengan Timnas Kroatsia. Indonesia mampu mengalahkan Kroatsia
2-1 dengan bermain sampai extra time. Indonesia melaju ke babak 8 besar.
Di babak 8 besar,
Indonesia bertemu dengan Timnas Mesir, Indonesia menang 1-0 dan lolos ke babak
semifinal. Indonesia menjadi perbincangan dunia, negara yang tak banyak orang
tahu, kini Timnas sepakbola nya mampu menembus babak semifinal Piala Dunia.
Indonesia telah membuktikan kepada mata dunia lewat dunia sepakbola.
Empat negara lolos
menuju babak Semifinal, Indonesia, Argentina, Jerman dan Brasil. Di semifinal
Indonesia bertemu dengan Timnas Argentina, yang kini dilatih oleh legenda
sepakbola Lionel Messi, dan Timnas Jerman bertemu dengan Timnas Brasil.
Lawan Argentina
tentu saja sangatlah berat, Argentina sejak dahulu memanglah negara sepakbola
yang kuat dan selalu diunggulkan. Namun, lagi lagi Indonesia mampu
mencengangkan dunia, setelah mampu mengalahkan Argentina lewat babak adu
penalti setelah memaksa Timnas Argentina bermain imbang 0-0, ini merupakan
hasil kerja keras para punggawa Timnas Indonesia yang pantang menyerah.
Seluruh dunia
tertuju pada satu nama, INDONESIA.
Sementara itu, di
pertandingan semi final yang lain, timnas Brasil mampu mengalahkan Timnas
Jerman dengan skor 3-2, dengan hasil itu Timnas Brasil akan melawan Timnas
Indonesia di babak Final Piala Dunia 2042.
Seluruh media baik
dalam negeri maupun luar negeri terus menerus memberitakan keberhasilan Timnas
Indonesia yang mampu menembus Final Piala Dunia 2042, padahal ini adalah kali
pertama Timnas Garuda masuk piala Dunia setelah memakai nama Indonesia, bahkan
nama-nama negara seperti Belanda, Inggris, Francis, Jerman, Belgia, Argentina,
dan bahkan Brasil kalah vamour dari Indonesia.
***
Beberapa jam
sebelum kick off pertandingan final, aku dan tentunya seluruh masyarakat
Indonesia tak henti-hentinya berdoa mengharapkan yang terbaik bagi timnas
Indonesia. Yang tadinya tidak menargetkan apa-apa, kini berharap Indonesia
mampu menjadi juara Piala Dunia 2034.
Aku telah duduk di
dalam stadion, dengan hati yang terus berdebar tidak seperti biasanya, berharap
suatu keajaiban datang dan menjadikan Indonesia Juara Piala Dunia.
Kick off telah di
mulai, seperti biasa Indonesia memasang strategi bertahan, sedangkan Brasil
terus menerus menggempur benteng pertahanan Indonesia tak henti-hentinya,
pemain Indonesia mulai kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi para pemain
dari negeri samba tersebut, dan pada menit ke 39’ gawang Indonesia bobol juga,
begitu juga pada menit 43’ dan 45’, 3-0 untuk keunggulan Timnas Brasil di babak
pertama. Para pemain Indonesia terlihat sangat
gugup menghadapi pertandingan final saat itu.
Kick off babak
kedua dimulai, timnas Indonesia tak kunjung melakukan strategi menyerang, tetap
bertahan, dan sekali-sekali melakukan serangan balik cepat. Menit 79’ skor
masih 3-0 untuk Brasil. Para pendukung Timnas Indonesia yang datang di stadion
sudah pasrah, dan berkata “Masuk final pun sudah sangat-sangatlah luar biasa,
jangankan masuk final, kalah di fase grup pun sudah luar biasa. Indonesia tetap
juara di hati masyarakatnya”.
Hingga pada menit 85’ Indonesia berhasil memanfaatkan kelengahan
Brasil dengan melakukan serangan balik dan mencetak gol. Skor sementara 3-1.
Pada menit 87’ Indonesia kembali mencetak gol lewat tendangan bola mati. skor
sementara 3-2. Harapan kembali muncul.
menit 90’ telah lewat, wasit menentukan tambahan waktu yang di berikan adalah 5
menit. Menit 90’+1, 90’+2, 90’+3, 90’+4,90’+5, Indonesia tak kunjung
menciptakan gol. Para pendukung timnas Indonesia berangsur-angsr pergi
meninggalkan stadion, termasuk aku. Sesaat aku sudah melangkahkan kaki menuju
keluar stadion, terdengar suara gemuruh banyak orang, “Gooooooollllllll” yes,
gol untuk timnas Indonesia di detik-detik akhir pertandingan, seluruh pendukung
dan penonton kembali masuk dan duduk di kursi stadion. Harapan kembali datang.
“Ayo INDONESIA” teriak ku di ikuti oleh pendukung yang lain.
Pertandingan dilanjutkan menuju babak extra time, Indonesia
bertahan total, sampai-sampai penjaga gawang dari Brasil ikut membantu serangan
timnya.
Skor 3-3 bertahan sampai peluit panjang dibunyikan. Pertandingan
dilanjut menuju babak adu penalti.
Tendangan pertama diambil oleh Indonesia, masuk. Begitu juga
tendangan kedua, ketiga, keempat dan kelima, semua penendang Indonesia berhasil
menceploskan bola ke gawang Brasil, hingga pada penendang terakhir dari timnas
Brasil, jika ini tidak gol, maka Indonesia yang akan memenangkan pertandingan
dan menjadi juara Piala Dunia 2042. Semua harapan menumpuk pada penjaga gawang
Indonesia. Nafasku terhenti sejenak. Dan..... yessss, tendangan terakhir pemain
Brasil berhasil ditahan oleh penjaga gawang Timnas Indonesia. Dan lihatlah
siapa itu yang menjadi penjaga gawang Indonesia, dia adalah anak ku sendiri,
Riyan. Bangga tak terhingga aku pada anakku itu.
“INDONESIA MENJADI JUARA PIALA DUNIA 2042”, begitulah kiranya
pemberitaan di media-media baik cetak maupun elektronik, baik dalam negeri
maupun luar negeri saat itu. Semua tentang INDONESIA, all about INDONESIA.
***
Tiga tahun setelah
Piala Dunia 2042, kini adalah tahun 2045. Umurku sudah 45 tahun. Aku tetap
menjadi seorang pengamat sepakbola, dan juga komentator sepakbola. Anakku Riyan
bermain untuk tim Manchester United di Inggris dan menjadi kiper utama. Liga
Indonesia menjadi Liga Terbaik di Asia. Pemain-pemain top dunia pun tak segan
kini bermain di Liga Indonesia. Indonesia menjelma menjadi sebuah negara sepakbola
di Asia, bahkan juga dunia. PSSI semakin baik saja dari tahun ke tahun.
Seluruh orang
diseluruh dunia kini mengenal Indonesia.
INDONESIA, INDONESIA, INDONESIA. Sebuah pencapaian luar biasa.
INDONESIA EMAS TAHUN 2045.
***SELESAI***
Komentar
Posting Komentar