CERPEN : GURU KU
GURU KU
Nama ku Ali. Aku
baru saja lulus S1 dari salah satu Universitas ternama di kota Yogyakarta—kota
pendidikan. Hari ini aku telah di wisuda. Bapak dan Ibu hadir untuk menyaksikan
anak semata wayangnya ini memakai baju toga kebanggaan. Tentunya aku bangga
atas kelulusan ku itu.
Kini aku adalah
seorang sarjana pendidikan. Ya, aku kuliah mengambil jurusan pendidikan.
Bapak dan Ibu
sudah pulang ke kampung di sumatera malam itu juga. Dengan menggunakan mobil
sewaan dari teman, aku antar mereka ke terminal.
Sementara itu aku masih di Yogyakarta. Menghabiskan sisa waktu di
kota berjuta kenangan itu sebelum pulang ke kampung halaman.
***
Aku belum juga beranjak dari tempat tidurku pagi itu. Bermalasan
dengan selimut yang menghangatkanku. Diluar sana matahari sudah mulai bekerja,
menyinari ruang bumi yang kali ini mendapatkan gilirannya disinari cahaya
surya. Di kamarku masih gelap saja. Sengaja kututup seluruh jendela supaya
cahaya itu tak masuk dalam kamarku dan membangunkanku. Biarlah. Aku seperti
kehilangan semangat hari itu. Termangu aku menatap langit-langit kamar. Juga
masih belum percaya!
Aku terbangun
setelah terkulai lemah beberapa saat. Teringat ucapan Bapak ketika akan
meninggalkan kota Yogyakarta di terminal malam itu :
“Nak..” tegur Bapak
ku.
“Iya pak?
“Kau anak bapak
satu-satunya. Dan sekarang kau sudah sarjana, bapak bangga, ibu mu juga
bangga.”
“Terimakasih bapak,
ibu.”
“Kau terpelajar
sekarang. Melebihi orang tua mu sendiri. Bapak dan ibu mu bukan lulusan
sarjana. Ijazah SD pun kami tak punya.”
Di kampungku,
orang-orang memang tidak terlalu mementingkan pendidikan. Paling-paling hanya
lulusan SD dan SMP. Ada yang SMA tapi hanya beberapa saja. Setelah itu, mereka
bekerja di ladang membantu orang tua mereka. Sekolah bagi orang-orang di kampung
ku hanya sebagai formalitas belaka. Yang paling penting bagi mereka adalah bisa
berladang dan membantu orang tua saja.—selain karena faktor ekonomi juga
tentunya.
Saat ini disana memang sudah ada sekolah SD, SMP, dan SMA. Kampung
ku adalah kampung terpencil yang jauh dari suasana perkotaan. Sekolah yang
paling terdekat hanya SD saja. SMP dan SMA ada di kecamatan yang jaraknya sekitar
sepuluh kilometer. Belum lagi anak-anak harus berjalan kaki jika ingin sekolah
ke SMP atau SMA di kecamatan karena memang belum ada angkutan umum di
kampungku.—jika pun ada, pasti biaya transportasinya akan mahal, sedangkan
keadaan ekonomi masyarakat di kampung ku berada dibawah taraf kemiskinan.
Jalannya masih tanah, rusak. Mobil dan motor pun susah payah jika ingin masuk
ke kampungku.
“Kau pun satu-satunya sarjana di kampung kita nak.” bapak
menambahkan. “Orang-orang desa juga bangga padamu”
“Iya pak. Sampaikan salam ku pada mereka”
“Kau masih ingat pak Umar guru SD mu di kampung?”
“Tentu saja aku ingat pak, beliau lah yang paling berjasa dalam
kesuksesan ku. Selain bapak dan ibu tentunya.”
“Bagaimana keadaannya
sekarang pak?” tanyaku pada bapak menyambung percakapan.
“Beliau baru saja meninggal dua hari lalu sebelum bapak dan ibu mu
pergi ke Yogyakarta. Sudah dua tahun beliau sakit keras”
Aku terkejut mendengar kabar itu, badanku terasa lemas seketika.
Aku tak percaya. Belum sempat aku mengucapkan terimakasih kepadanya. Begitu
cepat, mengapa begitu cepat beliau meninggalkan ku? Ya Allah, ampunilah segala
dosa dan cacatnya di dunia. Tempatkan lah beliau di tempat yang paling mulia.
Aku terdiam beberapa saat. Dan bapak menyadari dari raut mukaku
bahwa aku sedih—sangat sedih, mendengar kabar itu.
Ibu yang terdiam sejak tadi, tiba-tiba memeluk diriku, “Sudah nak,
kau tak perlu sedih, memang inilah kehidupan. Kita dilahirkan dan diciptakan
memang untuk kembali kepada-Nya, kepada Allah. Kau doa kan saja Pak Umar. Tak
apa kau bersedih sekarang, karena memang itu perlu, kau menangisi orang yang
tepat. Pak Umar memang sudah tidak bersama-sama kita lagi di dunia ini. Tapi
harus kau ingat nak, jasa-jasanya beliau tidak akan pernah hilang ditelan
waktu. Dan kau, adalah salah satunya. Ingat kau apa kata pak Umar saat
perpisahan di SD dahulu? Guru yang berhasil adalah guru yang mampu
menghantarkan anak muridnya sukses. Dan kau hari ini telah sukses Nak, dengan
pendidikan mu. Pak Umar telah menjadi guru yang berhasil.” Seperti air bah
kata-kata itu keluar dari mulut ibu.
Aku merasakan ada suatu kekuatan tertentu dari kata-kata ibu,
sehingga aku menangis saat itu pula.
Dan ibu kemudian berkata pada bapak “Ayo pak, kita pulang. Bus kita
sudah menunggu”
“Bagaimana dengan anak kita bu?” protes bapak
Ibu berkata lagi pada ku “Nak, kami pergi dulu, kau jangan lupa
pulang juga nanti. Kau punya rumah di sumatera sana”
Aku tak menjawab. Bapak dan Ibu sudah naik kedalam bus. Dan
perlahan bus itu menjauh.
***
Aku termenung di tengah terminal malam itu. Satu jam, dua jam, tiga
jam, sampai di kamar kos dan sampai pagi lagi aku masih belum percaya.
Pak Guru Umar adalah guru SD ku di kampung. Beliau adalah seorang
guru yang sangat bijaksana, aku sangat mengaguminya. Aku kuliah di jurusan pendidikan
pun atas sarannya. Beliau sangat berjasa atas segala kesuksesanku. Aku takkan
pernah melupakan jasa-jasanya.
Pak Umar bukanlah
warga asli kampung ku. Beliau datang ke kampung ketika usia ku tujuh tahun.
Masyarakat di kampung saat itu belum lagi tertarik kepada sekolah. Orang tua,
juga anak-anaknya tidak tertarik sekolah. Memang di kampung sudah ada Sekolah
Dasar yang dibangun oleh pemerintah pusat, namun amat di sayangkan bangunan itu
tak terurus sama sekali.
Dan pak Umar
datang untuk menjadi guru di sekolah—satu-satunya guru. Beliau datang atas rasa
tanggung jawabnya sebagai seorang guru, mendidik anak-anak perkampungan
terpencil yang sulit terjangkau pendidikan.
Menurut bapak,
sebenarnya dulu pernah ada guru yang mengajar di sekolah, tetapi hanya bertahan
beberapa bulan saja, sebabnya tidak ada murid yang mau bersekolah. Akhirnya,
guru tersebut kembali pulang ke kota.
***
15 tahun lalu, Pak
Guru Umar datang ke kampung dengan membawa tas berwarna coklat berisi pakaian.
Pak Guru Umar—selanjutnya aku sebut Pak Guru, datang ke rumah ku untuk bertemu
dengan bapak yang merupakan kepala desa di kampung. Aku membantu membawakan
koper Pak Guru masuk kedalam rumah.
“Apa ini dengan
bapak Hasan?” tanya pak Guru sembari menyalami bapak.
“Iya benar. Saya
sendiri. Bapak pasti Pak Umar ya, yang akan mengajar di sekolah.”
“Benar pak, saya
Umar. Saya ditugaskan oleh lembaga saya untuk mengajar di kampung ini.”
“Baik pak Guru.
Tapi Pak Guru harus mengetahui bahwa anak-anak disini susah sekali untuk diajak
bersekolah. Kiranya Pak Guru bisa bersabar dalam mengatasi persoalan tersebut.”
“Insyaallah pak
Hasan. Mohon bantuannya”
“Baik jika begitu
malam ini pak Guru tinggal di rumah saya saja terlebih dulu. Besok saya akan
persiapkan rumah tinggal untuk pak Guru. Kebetulan ada rumah yang sudah tidak
di tempati oleh pemiliknya, jadi bisa digunakan oleh pak guru”
“Terimakasih
banyak pak Hasan. Sekali lagi terimakasih.”
“Oh ya, pak Guru
kenalkan itu anak saya, namanya Ali. Dia akan jadi murid pertama pak Guru di
kampung ini.” bapak memanggilku dan memperkenalkan aku kepada pak Guru
Umar.
Pak Guru adalah
anggota sebuah lembaga sosial yang membantu pendidikan di desa-desa terpencil. Dan
beliau ditugaskan di kampungku.
***
“Nak, ayoh
bangun!” pagi-pagi sekali ibu membangunkan ku, “hari ini hari pertama kau
sekolah, cepat sana mandi”
Pagi-pagi sekali
aku mempersiapkan diri pergi ke sekolah saat itu. Betapa aku sangat sangat
penasaran pada apa yang di namakan “sekolah” saat itu. Sempat aku bertanya pada
bapak apa itu sekolah, dan beginilah jawaban bapak :
“Nak. Sekolah itu
pabrik. Pabrik tempat penghasil orang-orang berbudi, orang-orang pintar dengan
bahannya yaitu ilmu pengetahuan. Tetapi ilmu pengetahuan pun dapat
menjerumuskan kita pada hal-hal yang tidak baik jika kita tidak mampu
menggunakannya dengan benar. Nak, kau tahu koruptor? Mereka pun itu juga adalah
orang-orang pintar, orang-orang berpendidikan tinggi. Tetapi, karena mereka tak
mampu menggunakan ilmu pengetahuan yang diperolehnya dengan benar, jadinya
mereka adalah tidak lebih baik daripada maling, sama busuknya! Mental mereka
adalah pencuri. Penipu handal. Sebab itu para koruptor telah mengambil hak hak
kita sebagai masyarakat negara ini. Kau harus ingat-ingat pesan bapak nak. Jika
kau nanti sampai sekolah tinggi dan lulus sebagai seorang sarjana, jangan kau
seperti para koruptor itu. Para maling berdasi!”
Aku tak lagi
mengerti apa yang dikatakan bapak saat itu, jelas saja aku masih berumur tujuh
tahun. “Koruptor? Maling berdasi?” ahh apa pula itu, masih belum peduli aku
pada saat itu. Dan darimana bapak tahu kata-kata itu?
Di kemudian hari aku mengerti darimana bapak dapat berbicara
seperti itu. Bapak sering membaca, walaupun bapak tak tamat SD, bapak bisa
baca-tulis, dan hobi membaca. Sebab itu pula bapak dipilih menjadi kepala desa.
Namun aku belum lagi tahu darimana bapak mendapatkan buku-buku bacaannya.
Pergilah aku
menuju sekolah setelah pamit kepada bapak dan ibu, memberi salam.
Sekolah itu hanya
mempunyai satu bangunan, tidak ada kelas lain, tidak ada ruang guru, tidak ada
toilet.
Di sekolah hanya
ada seorang lelaki yang sedang menunggu di luar ruangan. Ya, Pak Guru Umar
sedang menunggu anak murid nya datang.
“Nah, kau anak
bapak Hasan ya, yang kemarin membantu bapak membawakan koper? Mari-mari, mari
masuk” diajaklah aku masuk ke ruangan yang disebut sebagai sekolah itu.
“Mana temanmu yang
lain?” sambung pak Guru.
“Saya tidak tahu
pak.”
“Baiklah. Oh iya,
siapa nama mu?”
“Ali pak.”
“Baik Ali,
nampaknya hari ini kau akan bersekolah sendiri. Tak apa, ayoh buka buku mu. Kau
bawa buku bukan?”
Hari pertama
sekolah benar-benar anak murid pak Guru Umar hanya satu: Hanya aku saja.
Dua minggu
berselang barulah ada beberapa teman ku yang ikut bersekolah. Sembilan orang
jumlahnya. Jadi keseluruhan murid pak Guru Umar saat itu sepuluh orang
denganku. Kudengar bapak dan Pak Guru bersusah payah membujuk para orang tua
dan anaknya agar mau bersekolah, dan upaya mereka tampaknya berhasil meskipun
tak seluruh anak-anak di kampung mau bersekolah.
***
Enam tahun
berselang semakin banyak anak-anak yang bersekolah. Bangunan sekolah pun kini
telah ditambah beberapa ruangan, agar dapat menampung anak-anak yang
bersekolah. Dan aku sudah menginjak kelas enam saat itu. Kelas terakhir untuk
lulus SD, dan itu tandanya sebentar lagi aku akan berpisah dengan guru
kesayanganku, pak Guru Umar.
Di kelas pak guru
umar sempat berpesan kepada aku dan teman-teman ku:
“Anak-anak, perpisahan itu bukanlah akhir dari segalanya. Tetapi
adalah awal dari segalanya. Bapak harap, setelah lulus dari sini kalian
melanjutkan sekolah ke kecamatan. Biarpun jauh, kalian harus tetap semangat
menuntut ilmu. Kejarlah ilmu itu. kalian tak akan rugi jika harus
berlelah-lelah mencari ilmu, sebab suatu saat kelak ilmu itu pula yang akan
menolong kalian di kehidupan yang akan datang. Dengan ilmu, semakin banyak kita mencarinya, semakin dalam kita
menggalinya, maka semakin kuat pula kita mengarungi kehidupan ini.”
Kata kata itu. kalimat itu. yang keluar dari mulut pak Guru selalu
aku jadikan landasan ku untuk bersemangat mencari ilmu.
Sampai pada saat hari kelulusan ku di SD dan aku melanjutkan
sekolah ke kecamatan, baik SMP ataupun SMA. Aku selalu meminta pendapat pada
pak Guru Umar, ia tak pernah sekalipun menjadi “mantan” Guru ku, selamanya ia
adalah Guru terbaik ku. Sebab tak ada yang namanya mantan guru, apalagi pak
Guru Umar yang mengajarkan aku membaca, menulis, dan berhitung.
Hingga akhirnya aku lulus SMA dan aku melanjutkan kuliah di
Yogyakarta pun atas saran pak Guru.
Sebelum aku berangkat menuju Yogyakarta, aku sempatkan untuk
berkunjung ke rumahnya pak Umar, saat itu sudah ada keluarga pak Umar yang
menemaninya, datang dari Jawa, istrinya dan juga dua orang anaknya yang
semua-muanya perempuan. Anaknya yang pertama bernama Fatimah, seumuran dengan
ku, dan yang bungsu bernama Khadijah, lima tahun dibawah ku.
Pak Guru Umar berpesan pada ku sebelum aku berangkat menuju
Yogyakarta, “Ali. Pak Guru bangga pada mu, dan punya harapan besar pada mu.
Dari awal bapak sudah menyangka kau akan sukses kelak nak. Dan saat ini, kau
sudah hampir melangkah pada kesuksesan itu. di Yogyakarta sana, di Jawa sana,
adalah pusat pendidikan. Tokoh-tokoh besar negara ini pun banyak yang lahir
disana. Tapi kau harus ingat nak, kau jangan terbuai dengan hiruk pikuk
perkotaan. Kau harus kembali kesini, ke kampungmu. Gantikanlah gurumu ini yang
sudah tua dan sakit sakitan. Barangkali aku tak sanggup dan tak dapat lagi
mengajar anak-anak disini, kaulah yang menggantikan. Bapak bangga pada mu nak,
Ali, bangga sekali.”
Seketika aku meneteskan air mata terharu mendengar ucapan pak Guru Umar.
“Mengapa kau menangis Nak?”
“Terharu aku pada mu Pak Guru, aku kagum padamu.”
“Ayolah Ali, kau ini laki-laki, jangan cengeng seperti itu. Hapus
air mata mu. Kau kan akan menjadi orang besar. Aku akan selalu mendoakan mu,
juga teman-teman mu yang lain meskipun mereka tak seberuntung dirimu, aku akan
mendoakan semua anak muridku, tak peduli siapa mereka, dari latar belakang
keluarga yang seperti apa mereka, aku akan selalu mendoakannya, selalu bangga
pada apa yang menjadi pilihan hidup mereka.”
Ya Allah. Betapa mulianya pak Guru Umar ini. Sungguh aku tak dapat
lagi menahan air mata ku jatuh pada saat itu, meskipun pak Guru sudah berkata
agar aku tak menangis. Tapi bagaimana lagi, air mata itu sudah jatuh. Air mata
bahagia mempunyai guru yang begitu bijaksana. Pak Guru Umar.
***
Hari ini. Setelah
kepulangan ku dari Yogyakarta, aku sempatkan berziarah ke makam pak Guru Umar.
Beliau di makam kan di kampung ku atas permintaannya sendiri.
Aku duduk
termenung di hadapan makam pak Guru Umar. Mendoakan nya. Berterima kasih atas
segala apa yang telah diberikannya pada ku. Meskipun aku tak tahu apakah beliau
mendengarnya atau tidak.
Lagi-lagi aku
meneteskan air mata. Sungguh aku tak sanggup menahannya. Guru ku, pak Umar,
kini telah berpulang, bahkan aku tak sempat ada di sampingnya saat beliau
pergi. Ya Allah, betapa sedih aku saat itu.
“Pak Guru. Saat
ini aku sudah sarjana. Terimakasih. Terimakasih pak Guru. Aku harap dirimu
melihatnya dari sana. Sekali lagi terimakasih pak Guru.”
Tiba-tiba ada yang
menegurku. “Ali!” sahut seseorang dari sampingku, menggebug bahuku, suara
seorang perempuan.
Aku menoleh, dia
adalah anak sulung pak Guru Umar, Fatimah. “Hei.. Fatimah” sahut ku kembali
kepadanya “Apa kabar mu?” tanyaku basa basi menutup kesedihanku.
Belum lagi
terjawab pertanyaan ku, “Mari ikut ke rumahku Ali.” Ajak Fatimah.
“Ada apa Fat?”
“Mari ikut. Ada
pesan dari bapak untukmu, yang harus ku sampaikan”
“Baik Fat, ayo.”
Berjalanlah aku
dan Fatimah beriringan menuju rumah almarhum Pak Guru Umar. Meninggalkan “rumah
terakhir” pak Guru Umar.
Selamat Tinggal Pak Guru. Berbahagialah dirimu di alam sana. Aku
berjanji akan menjalankan pesan terakhir mu itu. Selamat Tinggal Pak Guru. Guru
terbaik ku. Guru kesayangan ku.
***---***
Obat Aborsi Termanjur
BalasHapuspenggugur kandungan Termanjur
Jual Obat Aborsi Di Bandung
Jual Obat Aborsi Di Medan
Jual Obat Aborsi Di Cikarang
Jual Obat Aborsi Di Jakarta
Jual Obat Aborsi Di Banjarmasin
Jual Obat Aborsi Di Karawang
Jual Obat Aborsi Di Tegal
Jual Obat Aborsi Di Semarang
Jual Obat Aborsi Di Surabaya
Jual Obat Aborsi Di Papua
Jual Obat Aborsi Di Balikpapan
Jual Obat Aborsi Di Palembang
Jual Obat Aborsi Di Lampung
Jual Obat Aborsi Di Solo
Jual Obat Aborsi Di Lombok
Jual Obat Aborsi Di Malaysia
Jual Obat Aborsi Di Hongkong
Jual Obat Aborsi Di Taiwan
Jual Obat Aborsi Di Arab Saudi
Jual Obat Aborsi Di Korea
Jual Obat Aborsi Di Jepang
Sueee yg komennya malah akun jual obat aborsi... Wkwk
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus