PENDAKIAN GUNUNG TAMPOMAS via NARIMBANG

Assalamualaikum wr.wb...

Apa kabar kawan-kawan ku semuanya?

Semoga kalian baik-baik saja yaa.. :)

Pada kesempatan kali ini, saya akan mengulas perjalanan saya bersama tim Ngalemprut saat melakukan pendakian ke Gunung Tampomas, Sumedang.

Gunung Tampomas terletak di utara kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Dengan ketinggian mencapai 1684 MDPL, gunung Tampomas memiliki dua jalur pendakian yang biasa dilalui oleh para pendaki, yakni Cibereum dan Narimbang.

Oleh warga sekitar, puncak Tampomas disebut dengan nama puncak Sanghyang Taraje. Dari puncak terlihat pemandangan kota sumedang yang sangat menakjubkan.

Berjarak sekitar 200 meter kearah utara dari puncak Tampomas, terdapat sebuah maqam yang konon merupakan petilasan atau pasarean Prabu Siliwangi. Tidak jarang, banyak orang yang mengunjungi gunung Tampomas untuk melakukan ziaroh ke maqam tersebut.

Pada tanggal 2-3 Mei 2018 kemarin, saya beserta tim Ngalemprut mendaki gunung Tampomas, karena kebetulan kami sedang penat dengan suasana perkuliahan. Hehe

Kami berangkat mendaki dengan jumlah anggota 5 orang, yaitu Tim Ngalemprut yang beranggotakan 4 orang, yakni saya sendiri Fedrian Wijaya, Catur Baskoro, M. Sayyid Nabil, dan M. Subhi, ditambah satu orang teman perempuan bernama Dedeh Tazkiyatul. Kami berlima berangkat dari kota Cirebon sekitar pukul 13.00 WIB dengan menggunakan motor. Diperjalanan kami beristirahat di alfam*rt paseh sekaligus membeli logistik dan kebutuhan pendakian lainnya.

Sampai di pos 1 atau pos pendaftaran gunung Tampomas yang berada di desa Narimbang, sekitar pukul 16.00 WIB. Kami beristirahat sejenak, dan melakukan pengecekan dan packing ulang perbekalan yang akan kami bawa.

Biaya registrasi gunung Tampomas via Narimbang ini hanya Rp. 4000 plus parkir Rp. 10.000/motor. Dari dua jalur pendakian yang ada di gunung Tampomas, jalur Narimbang adalah jalur yang terdapat pengelolanya. Berbeda dengan jalur Cibeureum yang tidak ada pengelolanya, dan pendaki yang melewati jalur Cibeureum selalu free alias gratis, tetapi jika terjadi apa-apa tidak akan ada yang bertanggung jawab. Maka dari itu, kami memilih jalur Narimbang, selain karena ada yang bertanggung jawab ketika terjadi sesuatu, jalur Narimbang pun cukup bersih dari sampah—walau hanya sampai pos 4. Sepaket dengan pos pendakian, di jalur Narimbang ini pun terdapat sebuah curug atau air terjun yang cantik yaitu curug Ciputrawangi. Jadi, kawan-kawan bisa mandi di curug setelah turun gunung. Cukup menyenangkan bukan?

Lanjut ke pendakian. Kami start mendaki pukul 17.00 WIB. Dan melakukan persiapan untuk perjalanan malam. Kami disarankan oleh salah satu pengelola untuk berhenti berjalan ketika maghrib, entah apa alasannya tetapi kami tetap mengikutinya, sebab penduduk sekitar lebih tahu keadaan dan tipikal gunung Tampomas.

POS 1-POS 2 (2 Jam)

Foto di POS 1
Perjalanan dari pos 1 menuju pos 2 (pasir seleh) memakan waktu sekitar 2 jam. Jalur pos 1 - pos 2 ini masih bersahabat, tidak terlalu menanjak, dan akan mendapatkan banyak bonus. Kita akan melewati kebun milik warga dan hutan pinus, sebelum sampai di pos 2. Ditengah perjalanan menuju pos 2 kami memutuskan beristirahat sejenak, karena mendengar suara adzan maghrib berkumandang, sekaligus melaksanakan shalat maghrib. Sesampainya di pos 2, kita akan menemui satu-satunya warung, yang di jaga oleh seorang kakek yang berumur sekitar 70’an.

POS 2-POS 3 (30 menit)
Foto di POS 2

Foto di POS 2
Kami tiba di pos 2 sekitar pukul 19.00 WIB. Kami beristirahat cukup lama di sini, karena ada warung, akhirnya kami memesan kopi sebagai tanda terimakasih karena kami beristirahat di warung tersebut. Hehe. Di warung ini pula kami berbincang banyak dengan pemiliknya, seorang kakek—kami lupa menanyakan namanya. Si kakek yang humoris seringkali melakukan lelucon kepada kami, dan canda tawa pun tak bisa di elak kan.

Si kakek pun bercerita tentang kejadian-kejadian mistis yang dialami oleh para pendaki di gunung Tampomas. Menurutnya, pernah ada pendaki yang mengalami hal gaib di pos 4, yang melihat se sosok wanita dengan tinggi 4 meter. Lalu, ada pendaki yang meninggal di puncak, karena tak sengaja buang air kecil di maqam, dan cerita-cerita mistis lainnya.

Entah itu kejadian nyata, atau si kakek hanya menakut-nakuti kita, yang jelas saya sendiri merasa gemetar pada saat itu. hehe.

Kami berangkat mendaki dari pos 2 menuju pos 3 (batu kukus) sekitar pukul 20.00 WIB. Jalur menuju pos 3 masih di dominasi jalur tanah dan akar pepohonan yang melintang melintasi jalur.

POS 3-POS 4 (1 Jam)
Foto di POS 3

Dari pos 3 menuju pos 4, kami memakan waktu sekitar 1 jam. Jalur sudah mulai agak menanjak dan mulai menguji emosi, karena terdapat beberapa tanjakan yang cukup melelahkan, belum lagi mendengar cerita si kakek di pos 2, dan juga teringat bahwa saya ternyata masih jomblo, huuu itu sungguh menambah suasana makin mencekam,. Ha ha ha.

Oke lanjut, sampai di pos 4 (awi kreteg) sekitar pukul 21.30 WIB, di pos 4 ini merupakan jalur pertemuan/persimpangan antara jalur Cibeureum dan Narimbang. Di pos 4 kami memutuskan untuk lanjut berjalan, karena telah beristirahat sebelum sampai pos 4. Ohh iya, di pos 4 ini terdapat lahan yang cukup luas, dan bisa menampung sekitar 10-15 tenda.

POS 4-Puncak (1 Jam)
Foto di POS 4

Perjalanan dari pos 4 – Puncak memakan waktu sekitar 1 jam. Dari informasi yang saya dapat, sebenarnya ada beberapa pos lagi untuk menuju ke puncak, tetapi saya tidak tahu  apakah itu merupakan pos atau bukan, karena tidak ada tanda yang menunjukan/menuliskan “pos”, yang ada hanya nama tempatnya saja. Maka dari itu, di artikel ini saya langsung menuliskan dari pos 4-puncak. Untuk menuju puncak dari pos 4 ini, kita akan melalui tiga tanjakan yang bener bener bikin kaki gemeter. Yaitu, Sanghyang Lawang, Sanghyang Taraje, Sanghyang Tikoro, dan Sanghyang Kamuh, *ehh maaf sanghyang kamuh gak termasuk. Wkwk.
Sanghyang Lawang

Sanghyang Taraje

Sanghyang Tikoro

Jalur dari pos 4- puncak mulai menguras fisik dan emosi. Ketika sampai di Sanghyang Lawang, jalur sudah mulai curam dan terdapat bebatuan, begitu juga di Sanghyang Taraje dan Sanghyang Tikoro, lutut benar-benar sampai bertemu dengan dada.

Sebelum sampai puncak, setelah melewati Sanghyang Tikoro, kita akan menemukan kawah gunung Tampomas, yang ditandai dengan plakat kayu, dan ada garis batas agar para pendaki tidak terlalu dekat dengan kawah. Tidak seperti gunung Ciremai yang kawahnya terletak di puncak, kawah gunung tampomas ini berada sebelum puncak Tampomas.

Dari kawah, puncak Tampomas sudah tidak jauh lagi, tinggal berjalan beberapa menit dan akhirnya sampailah di puncak tampomas. Tim kami sampai di puncak Tampomas sekitar pukul 22.30 WIB. Kami langsung mendirikan tenda dan langsung terlelap tidur di temani dengan suasana malam yang sangat indah saat itu.

Pagi hari nya, kami menikmati sunrise yang muncul perlahan dari ufuk timur, sangat indah, ditambah dengan canda tawa para sahabat, secangkir kopi, dan kicauan burung pagi hari di puncak Tampomas saat itu, membuat saya ingin berlama-lama berada di puncak. Ahh, hidup ini indah sebenarnya, jika kita mampu mensyukurinya. Terimakasih Tuhan. :)

            Demikianlah sedikit tulisan yang saya buat, semoga dapat bermanfaat bagi kawan-kawan yang membacanya. Mohon maaf bila terdapat banyak kesalahan dalam penulisan maupun informasi. Saya mengharapkan kritik dan saran untuk kedepannya agar lebih baik dalam hal tulis menulis. Terimakasih :)

Wassalamualaikum wr.wb...




*NB : Berhubung kami melakukan pendakian di malam hari, jadi foto yg kami ambil adalah foto ketika di siang hari. Berikut adalah foto-foto kami saat di puncak gunung Tampomas.
 






Sunrise Mt. Tampomas









Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer