PESANTREN SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM



PESANTREN SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

            Banyak anak-anak zaman sekarang yang tidak suka bersekolah di lembaga sekolah berbasis Islam khususnya pesantren dan lebih memilih bersekolah di sekolah umum. Bahkan tidak sedikit para orang tua nya pun demikian, mereka lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah umum (formal). Yang menjadi persoalannya adalah karena saat ini terjadi dinamika pendidikan, antara pendidikan Islam dan pendidikan umum.
            Sebelum dibahas lebih lanjut alangkah lebih baiknya kita mengetahui pengertian dari pendidikan Islam terlebih dahulu. Pendidikan Islam, Kata “Islam” dalam “Pendidikan Islam” menunjukan warna pendidikan tertentu, yaitu pendidikan yang berwarna Islam, pendidikan yang Islami, yaitu pendidikan yang berdasarkan Islam (Ahmad Tafsir :2011). Atau dengan kata lain Pendidikan Islam adalah pendidikan yang berdasarkan/berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Hadist (Sunnah), yang mana dalam pembelajarannya mengutamakan ilmu tentang Ketauhidan, akhlak, dan hal lain yang berkaitan dengan Islam, tetapi tidak mengenyampingkan ilmu-ilmu umumnya juga. Salah satu lembaga pendidikan Islam yang populer adalah lembaga pendidikan Islam berbasis pesantren.
            Indonesia yang notabene adalah negara dengan masyarakatnya yang mayoritas Islam, sudah barang tentu tidak asing dengan segala hal yang berkaitan dengan agama Islam. Salah satunya adalah dalam hal pendidikan, Indonesia mempunyai sebuah sistem pendidikan yang khas dan unik, yakni pesantren. Kenapa dikatakan demikian, karena dalam prakteknya para santri (murid) disebuah pesantren tidak pulang ke rumahnya masing-masing alias menetap dan tinggal di pesantren tersebut. Sehingga pesantren sering disebut juga dengan pondok pesantren. Selain itu lembaga pendidikan pesantren hanya dapat berkembang dan banyak ditemukan di Indonesia. Sementara di negara-negara lain sulit untuk menumukan lembaga pendidikan yang demikian.
Secara etimologis, pondok pesantren adalah gabungan dari pondok dan pesantren. Pondok, berasal dari bahasa Arab, yaitu funduk yang berarti hotel, didalam pesantren Indonesia lebih disamakan dengan lingkungan padepokan yang dipetak-petak dalam bentuk kamar sebagai asrama bagi para santri. Sedangkan pesantren merupakan gabungan dari kata pe-santri-an yang berarti tempat santri (Rildwan Nasir:2005).  Sehingga dapat disimpulkan bahwa pondok pesantren adalah tempat atau asrama bagi santri yang mempelajari agama dari seorang guru yang biasanya disebut oleh para santri dengan sebutan Kyai atau Syaikh.
Lalu kenapa Lembaga Pendidikan Pesantren dewasa ini tidak diminati oleh masyarakat?
Hal ini dikarenakan sudut pandang masyarakat yang menilai bahwa lembaga pendidikan umum itu lebih unggul dari lembaga pendidikan Pesantren. Selain itu mungkin juga dikarenakan biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua untuk memasukan anaknya ke pesantren terbilang mahal, apalagi jika model pesantrennya adalah pesantren modern yang sudah terkenal keseluruh negeri bahkan luar negeri. Namun tidak sedikit kita jumpai pesantren yang biayanya tidak mahal tetapi kualitasnya tetap bagus dan mampu bersaing dengan pesantren-pesantren modern yang terbilang maju.
Padahal jika kita kembali melihat jejak sejarah pendidikan di Indonesia. Maka yang berperan penting dalam “perjalanan” pendidikan di Indonesia adalah lembaga pendidikan Islam, yaitu pesantren. Pesantren adalah lembaga pendidikan asli Indonesia sekaligus lembaga pendidikan tertua yang ada di Indonesia dan menjadi salah satu identitas atau ciri khas Pendidikan di Indonesia yang masih eksis hingga sekarang. Sedangkan lembaga pendidikan umum baru ada dan berkembang jauh setelah pesantren ada. Pesantren juga dikatakkan sebagai “bapak” pendidikan Islam di Indonesia.
Kehadiran pesantren ditengah-tengah masyarakat tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai lembaga penyiaran agama dan sosial keagamaan. Dengan sifatnya yang flexible sejak awal kehadirannya, pesantren ternyata mampu mengadaptasikan diri dengan masyarakat serta memenuhi tuntutan masyarakat.
Walaupun pada masa penjajahan, pondok pesantren mendapat tekanan dari pemerintah Kolonial Belanda maupun Jepang, tetapi pondok pesantren masih bertahan terus dan tetap tegak berdiri walaupun sebagian besar berada di daerah pedesaan. Peranan mendidik dan mencerdaskan kehidupan bangsa tetap diembannya. Pesantren pada masa penjajahan pun berperan penting dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah. Telah banyak kader-kader bangsa dan tokoh-tokoh perjuangan nasional dilahirkan oleh pesantren. Bahkan pada saat-saat perjuangan kemerdekaan, banyak tokoh pejuang dan pahlawan-pahlawan kemerdekaan yang berasal dari pesantren.
   Pada zaman modern ini banyak kita jumpai pondok pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia, karena memang pondok pesantren lahir ditengah-tengah masyarakat Indonesia. Kita dapat menjumpai pondok pesantren mulai dari pondok pesantren tradisional sampai pondok pesantren yang modern. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki karakteristik tersendiri, baik dalam lingkungan pembelajaran maupun metode pembelajarannya. Terdapat beberapa ciri suatu pondok pesantren yang ditandai dengan adanya; kyai atau syekh sebagai guru atau biasanya juga pemilik yang menjadi panutan dalam sebuah pondok pesantren; santri sebagai murid yang menetap atau tinggal di pesantren dan belajar kepada kyai; asrama sebagai tempat tinggal santri dan masjid sebagai pusatnya dan; Adanya pendidikan dan pengajaran agama melalui sistem pengajian (weton, sorogan, dan bandongan), yang sekarang sebagian sudah berkembang dengan sistem klasikal atau madrasah (H.A. Mukti Ali:1986).
              Memang jika kita melihat dengan sekilas, bahwa pesantren model salaf/klasik terlihat kuno dalam metode pembelajarannya. Karena pesantren salaf biasanya hanya mempelajari kitab-kitab kuning saja. Tetapi kita jangan sampai salah menilai bahwa pesantren itu kuno dan tidak unggul dengan lembaga pendidikan umum. Karena sekarang sudah banyak pesantren-pesantren modern yang tersebar diseluruh Indonesia, yang mana terdapat sekolah-sekolah formal didalam pesantren tersebut dari mulai tingkat dasar sampai menengah dan bahkan sampai perguruan tinggi. Tentu saja sekolah-sekolah formal yang berada di dalam pondok pesantren tersebut adalah sekolah yang berbasis Islam seperti; Madrasah Ibtidaiyah (tingkat dasar); Madrasah Tsanawiyah (tingkat menengah pertama); Madrasah Aliyah (tingkat menengah atas); dan tingkat perguruan tinggi (IAIN/UIN/STAI). Contohnya adalah pondok pesantren Gontor di Jawa Timur dan pondok pesantren Husnul Khotimah di Kuningan – Jawa Barat yang sudah terkenal bukan hanya di dalam negeri tapi juga sampai luar negeri.
              Terlepas dari kedudukan antara formal atau tidak formalnya antara pesantren salaf dan pesantren modern. Keduanya tetap memiliki tujuan akhir yang sama, yakni menjadikan peserta didiknya mandiri, menciptakan manusia yang berakhlak dan berkepribadian, dan menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT. Dari tujuan pondok pesantren tersebut, ternyata ada keterkaitan juga dengan tujuan pendidikan nasional yang tertuang pada pasal 4 UU Nomor 2 tahun 1989 yaitu : “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan kehidupan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa....”
            Sudah sepatutnya kita bangga terhadap pesantren. Selain karena pesantren adalah pelopor pendidikan Islam di Indonesia, di dalam pesantren pun terdapat para ulama-ulama, yang mana ulama merupakan pewaris Nabi dan kita harus menghormatinya. Oleh sebab itu, kita jangan sampai terlarut-larut dan terbuai dengan apa yang dinamakan dengan “era globalisasi”. Pengaruh era globalisasi banyak mempengaruhi pemikiran masyarakat dewasa ini. Karena di era globalisasi ini pergaulan antar bangsa semakin ketat. Batas antar negara hampir tidak ada artinya, batas wilayah tidak lagi menjadi penghalang. Di dalam pergaulan antar bangsa yang semakin kental itu akan terjadi proses akulturasi, saling meniru dan saling mempengaruhi antara budaya masing-masing. Juga adanya pemikiran pemikiran barat yang masuk dan melakukan propaganda lewat media masa baik media televisi maupun media cetak yang mengubah pola pikir masyarakat. Karena tak bisa dipungkiri bahwa ada segelintir atau sekelompok orang yang  tidak suka jika agama Islam maju dan berkembang. Dan globalisasi merupakan salah satu alat untuk menghancurkan Islam khususnya di Indonesia yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Sehingga menyebabkan munculnya sikap pada masyarakat kita yang menjadi individualistis dan matrealistis, dan hanya mementingkan gengsi semata.
              Seperti yang telah diterangkan sebelumnya bahwa globalisasi adalah alat untuk melakukan propaganda untuk memasukan ideologi-ideologi sekuler, liberal, bahkan mengembalikan komunis ke Indonesia yang tujuannya adalah untuk menghancurkan umat Muslim lewat generasi-generasi bangsanya, dan akan menghasilkan generasi bangsa yang miskin moral dan nurani. Disaat itulah generasi bangsa mulai menyukai apa yang musuh mereka sukai dan memusuhi apa yang musuh mereka musuhi. Kita sudah banyak melihat, bahwa anak-anak bangsa kita mulai dari remaja hingga dewasa sering tawuran, mabuk-mabukan, berjudi, menyalahgunakan narkoba, dan lain sebagainya.
              Ketika sekolah-sekolah umum tidak bisa menghandle para muridnya sehingga mereka dengan begitu mudah melakukan hal-hal negatife yang merugikan. Maka pesantren adalah jawaban yang paling tepat untuk situasi ini. Karena di pesantren akan diajarkan tentang ketauhidan, tentang ke-esaan Allah SWT, para santrinya pun akan di didik supaya mandiri, memiliki rasa solidaritas yang tinggi, memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, mencintai para ulama, menjadi generasi yang cinta Qur’an dan Sunnah, dan menjadi seorang hamba Allah yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya, meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT, dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT.
              Untuk para orang tua jangan khawatir anaknya akan kudet atau ketinggalan zaman, karena sekarang sudah banyak pondok pesantren yang selain belajar agama juga mempelajari pelajaran umum. Sehingga para peserta didik (santri) nantinya akan mendapatkan dua ilmu sekaligus, yakni ilmu akhirat untuk bekal di akhirat nanti dan juga ilmu duniawi untuk mengarungi kehidupan yang akan dijalani. Jadi, bisa kita bandingkan bahwa Pesantren sebenarnya lebih unggul dari sekolah umum biasa.
Wallahu a’lam bish shawabi.

Komentar

Postingan Populer